elvinadiah

  • shortstory
  • travelaround
  • kiddos :*
  • cats :)
  • babibu
  • ask me anything
  • submit a post
  • rss
  • archive
  • Lelaki Penembus Hujan

    *Tulisan oleh Bagus Rian Nugraha*

    Aku tak mungkin menyalahkan Allah. Karena dengan izinNya langit menjadi kelabu. Dengan kuasaNya pula Ia hentakkan gundala di setiap penjuru langit. Lalu, satu persatu jutaan cintaNya jatuh menghujam bumi.

    Di bawah sebatang akasia aku terperangkap, sebab hujan tak kunjung reda. Tubuhku menggigil akibat mendekap erat sebuah janji. Segenggam kata yang yang telah kita ikrarkan kala senja tempo hari. Sebenarnya ingin kutembus saja rinai-rinai hujan ini. Tapi, aku sudah tak kuasa. Kakiku serasa tertanam, berat untuk melangkah. Tubuhku serasa beku, karena terus dipeluk hujan sepanjang perjalanan tadi. Benar-benar tak sanggup lagi kukayuh sepeda ini.

    Kupandangi langit berharap Allah lembutkan sejenak bait-bait cintaNya. Dalam keadaan menggigil terus kulantunkan doa itu. Sebab, ku tak mau disebut seorang munafik karena telah menciderai sepotong janji. Meskipun bisa saja aku berkilah, ini karena hujan. Sedangkan disini ada kecemasan lain menghampiri. Aku cemas apakah kau masih menantiku? Mungkinkah kau masih setia disana? Menggenggam erat janji kita sore itu?

    Sebenarnya, dari awal sudah kuingatkan bahwa kau tak usah berharap banyak. Pada lelaki yang dikutuk malam ini. Aku memang lelaki. Tapi, aku bukan lelaki tangguh yang bisa menembus hujan. Aku juga bukan seorang pemberani, yang mampu berdiri gagah menantang petir. Maka, berulang kali aku mengingatkan tentang kekhawatiran yang menjadikanmu kecewa. Bahwa bisa saja, diriku tidak mampu menghadirkan pelangi seperti yang kau pinta. Namun, kau tetap kukuh. Mengabaikan semua kelemahan-kelemahanku seperti angin lalu. Kau tanggapi semua cerita itu dengan senyuman. Aku tak mengerti, dengan kaca mata apa kau menilai lelaki malang ini?

    Apakah bulir-bulir hujan telah rabunkan matamu? Dalam rona merah senja tempo hari itu, kau ungkapkan alasannya. Kau ingin mencintaiku dalam kesederhanaan. Inilah yang meyakinkanku untuk menembus hujan. Mengabaikan semua cemoohan orang-orang, yang melihatku terseok-seok mengayuh sepeda di tengah derasnya hujan. Bodoh sekali memang. Tapi aku tetap tak peduli. Sebab, sepotong kalimatmu senja itu adalah untaian paling tulus yang pernah kudengar. Maka sebenarnya aku bersyukur karena Allah telah turunkan hujan selebat-lebatnya. Hentakkan petir segagah-gagahnya. Tiupkan angin sejadi-jadinya.

    Aku melihat semua itu bukan sebagai kendala. Tapi, semua itu telah mengantarkanku pada sebuah kesempatan. Bahwa segala sangka kita akan terbukti hari ini. Segala ucap kita akan tampak wujudnya. Di bawah tadarus hujan, dengan segenap kekuatan yang kumiliki, aku akan beupaya untuk buktikan, bahwa akan kupenuhi janjiku untuk menemuimu di ujung desa. Di rumah Allah yang letaknya di kaki bukit. Kita akan bertemu di sana, tepat sebelum azan magrib tiba. Demikian juga dirimu, kan terbukti sejauh mana ucap tulusmu itu. Apakah kau takluk dengan sang waktu? Tetap setia menabuh rindu? Atau jangan-jangan kau memang tak ada disana? Atau sekerat janji itu hanya basa-basi saja? Entahlah, di bawah tadarus hujan ini kan kita buktikan segalanya.

    Langit masih tetap kelabu. Tak ada tanda-tanda hujan akan reda. Kutarik nafasku dalam-dalam, untuk mengumpulkan satu-satu tenaga yang masih tersisa. Kuraih kembali sepedaku. Lalu perlahan-lahan kembali terseok-seok menembus hujan. Perlahan-lahan aku kian jauh meninggalkan batang akasia.

    Samar-samar telah terlihat, kubah rumah Allah tampak menjulang langit. Aku kian dekat. Jutaan cinta Allah masih menghujam tubuhku. Akhirnya aku tiba dengan segenap asa. Kusandarkan sepedaku di dinding rumah Allah itu. Mataku awas menatap sekelilingnya. Namun, tak seorang pun kutemukan disana. Sedangkan hari semakin senja. Seperti yang kukhawatirkan.

    Saat magrib telah tiba, saat itu pulalah luruh keyakinanku padamu. Kukumandangkan azan lalu kutegakkan perintah Allah itu seorang diri. Kala itu, sebuah keyakinan baru hadir. Yang sebenarnya telah lama mendengung-dengung dalam kalbu. Namun, karena mungkin selama ini aku tak peduli. Bahwa sesungguhnya, hanya Allah yang benar-benar setia menanti.

    • June 26, 2012 (4:25 pm)
    • 9 notes
    • #shortstory
    1. annisaadejanira likes this
    2. fatmafath likes this
    3. nindwie likes this
    4. vherachekhov reblogged this from elvinadiah
    5. sulfiparumpa reblogged this from elvinadiah
    6. jemmymamen likes this
    7. cumafarah reblogged this from elvinadiah and added:
      jangan pernah bergantung dan berharap pada janji manusia, percayalah hanya kepada Allah :) janji-Nya selalu nyata :)
    8. putrinabhan likes this
    9. achmadlutfi likes this
    10. elvinadiah posted this
© 2011–2013 elvinadiah