1. 7
    23
    Feb

    Sore Tugu Pancoran (Sore Mesjid UI)

    Kalau saya sedang dengar lagu Iwan Fals ini (Judulnya Sore Tugu Pancoran, saya memang salah satu penggemar Iwan Fals :p):

    Si Budi kecil kuyup menggigil
    Menahan dingin tanpa jas hujan
    Di simpang jalan tugu pancoran
    Tunggu pembeli jajakan koran
    Menjelang maghrib hujan tak reda
    Si Budi murung menghitung laba
    Surat kabar sore dijual malam
    Selepas isya melangkah pulang

    Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu
    Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu
    Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu
    Dipaksa pecahkan karang lemah jarimu terkepal

    Cepat langkah waktu pagi menunggu
    Si Budi sibuk siapkan buku
    Tugas dari sekolah selesai setengah
    Sanggupkah si Budi diam di dua sisi

    Saya jadi ingat “si Budi” yang lainnya, yang beberapa waktu lalu sering saya temui di Mesjid UI (Mesjid Ukhuwah Islamiyah, bukan Mesjid Universitas Indonesia ternyata :D) pada jam magrib menjelang masuk isya.

    Saya memperhatikan “si Budi” (bahkan saya lupa menanyakan namanya) itu, sekitar kelas 3 atau 4 SD, masih menggunakan seragam SD, tidak hanya hari itu saja, hari-hari sebelumnya juga dia ada disana. Pada hari itu, ia sholat di sudut mesjid, barisan paling belakang, tidak ikut berjamaah. Setelah sholat, ia masuk ke wilayah tempat sholat wanita, membawa setumpukan koran, yang pastilah untuk ditawarkannya dan dijual. Ia memilih ke wilayah wanita, mungkin dengan alasan, wanita lebih gampang kasihan dibandingkan laki-laki, apalagi kepada anak-anak. Dan “si Budi” itu membuat saya berhasil menjadi salah satu yang kasihan, tapi juga kagum. Kagum karena percakapan yang terjadi di antara kami berdua seusai sholat Magrib.

    “Si Budi”   : “Kak, mau beli koran saya nggak?”

    Saya       : (sibuk melipat mukena) “Memangnya ada koran apa saja?”

    “Si Budi”   :(Ia menyebutkan beberapa nama koran, yang sebenarnya berita-berita disana sudah saya baca sebelumnya di kantor) “Cuma dua ribu kak. Sudah malem. kakak mau beli?” (wajahnya  memelas).

    Saya       :(saya lihat satu koran, tetapi kemudian mengalihkan pembicaraan, mengetes kejujurannya) “Kamu tadi sholat ga?”

    “Si Budi”   : “Sholat kak”.

    Saya       : “Tapi, kok tadi ga ikut jama’ah kakak lihat?”

    “Si Budi”   :Saya takut diusir kak, kan saya cuma penjual koran.

    Saya       :Loh kok bilang begitu?

    “Si Budi”   :(diam)

    Saya       :(terdiamnya dia, membuat saya ingin bertanya yang lain) Kamu tau ga, sholat itu buat apa? (Entah pertanyaan itu terlalu berat didengar oleh anak sekecil itu, entah ia mengerti atau tidak, tetapi jawabannya kemudian membuat saya tersenyum).

    “Si Budi”   : “untuk bersyukur Kak”.

    Saya       :(Entah dapat jawaban dari mana anak itu, entah mereka-reka darimana, tapi saya langsung kagum lantas mata berkaca-kaca) “Iya, kamu benar. Lain kali, kamu harus ikut sholat jama’ah yaa. Ga akan ada yang usir kok. Oke, Kakak beli satu korannya” (Saya merogoh saku, mengeluarkan selembar lima ribuan).

    “Si Budi”   :“Ini kak, kembaliannya”.

    Saya       :“Ga usah, buat kamu aja ya. Kamu pulang jam berapa? sudah malem loh. Apa ga dicari bapak ibu kamu?. Belum ganti baju sekolah lagi, kamu”.

    “Si Budi”   :“Makasih ya kak. Saya tinggal bersama nenek, di kutek. Bapak Ibu saya di Kelapa Dua”.(Kemudian dia menghitung-hitung penghasilan hari ini sepertinya).

    Saya       :“Jadi, sekarang mau ke kutek pulangnya? Ayo bareng sama kakak aja ke haltenya. Naik Bikun kan?” (Sebenarnya saya ingin menananykan lebih lanjut, kenapa tidak tinggal dengan Bapak Ibu, tapi saya urungkan).

    “Si Budi”   :” Iya. Oke deh bareng sama kakak. (saya tersenyum) Kak, hari ini saya untung lima belas ribu rupiah. Meskipun masih ada sisa sih korannya” (air muka yang tadi bahagia, langsung sedih menunduk).

    Saya       :“Kan, kamu tadi habis sholat, katanya untuk bersyukur. Yaa, sekarang bersyukur aja”.

    “Si Budi”   :“Ohh iyaa. (ada senyum kecil di wajahnya). Eh, kak, kakak duluan aja deh, saya mau nawarin koran ini lagi ke kakak yang berdua itu dulu”.

    Saya       :Oh yaudah. hati-hati ya”.

    “Si Budi”   :“Iya, makasih ya kak. sampai ketemu lagi”. (senyumnya mengembang).

    Saya melangkah pulang, berkaca-kaca, mendoakan agar rezekinya selalu berkah. Selalu, kalau lihat anak sekecil itu, berasa melihat adik sendiri :’)

    Lain kali kalau ketemu lagi, saya akan menanyakan namanya :’D

    1. gilangkr said: seharusnya bagian memberinya ga usah diceritakan, atau paling tidak ngga usah terlalu rinci. Untuk menghindari riya’. hhe
    2. elvinadiah posted this
avatar_96
Page 1 of 1

Following

See more stuff I like